Legenda Sangkuriang Perspektif Sigmund Freud
" Dari kesalahan kesalahan akan muncul kebenaran " - Sigmund Freud.
Sangkuriang adalah cerita rakyat yang sangat terkenal di Jawa Barat. Mungkin banyak diantara kita yang sudah membaca atau mengetahui cerita dongeng tersebut. Dimana diceritakan bahwa sangkuriang menikahi ibunya setelah tak sengaja membunuh ayahnya sendiri yang menjelma sebagai anjing peliharaan sang ibu.
Lalu apa hubungannya dengan tokoh psikologi terkenal Sigmund Freud?
Sigmund freud adalah seorang ilmuan psikoanalisis yang banyak menyumbangkan pemikiran tentang struktur kepribadian pada manusia, beberapa pembahasannya memang sangat diluar nalar bagi kaum awam. Tetapi justru sangat menarik bagi mereka yang memiliki kemauan dalam mempelajari ilmu psikologi.
Dalam kasus sangkuriang, Sigmund freud telah menjelaskan bagaimana fenomena tersebut dapat terjadi dalam teorinya.
Hal tersebut berawal pada masa perkembangan manusia yang merupakan psikoseksual secara alamiah, yang akan melalui 5 tahapan penting, yaitu pada pekembangan oral, anal, phallic, laten dan genital.
Di sini, kita akan lebih membahas pada perkembangan tahap phallic untuk menjawab kasus sangkuriang.
Tahap phallic terjadi pada usia 2-5 tahun, Freud mempercayai bahwa anak anak pada tahap ini telah memiliki rasa ketertarikan secara seksual terhadap orangtua nya dan cikal bakal ketertarikan pada lawan jenis. Pada mulanya, anak (laki laki dan perempuan) sama sama mencintai ibunya yang telah memenuhi kebutuhan mereka dan memandang ayah sebagai saingan dalam merebut kasih sayang ibunya. Pada anak laki laki, persaingan tersebut membuat ia ketakutan kalau ayahnya akan memakai kekuasaannya untuk merebut kasih sayang ibu. Dia cemas penisnya akan dipotong oleh ayahnya, gejala ini disebut fenomena Castration Anxienty kecemasan inilah yang mendorong anak laki laki kemudian mengidentifikasi diri dengan ayahnya.
Sedangkan pada anak perempuan, rasa sayang kepada ibunya berubah menjadi kecewa karena menyadari kelamin nya berbeda dengan anak laki laki, ia menyalahkan ibunya karena membawa mereka ke dunia tidak dipersiapkan dengan baik. Oleh karena itu, anak perempuan mengembangkan hasrat menguasai ayah mereka, sebagai cara untuk menggunakan penis ayahnya dan mengganti milik mereka yang hilang. Pada akhir konflik keinginan terhadap penis diwujudkan pada keinginan untuk menikah dengan laki laki dan melahirkan anak. Lalu pada masa dewasa, anak perempuan yang tetap mempertahankan keinginan tidak sadar untuk memiliki penis dapat mengalami kesulitan penyesuaian dan mengembangkan karakteristik tipe maskulin yang dominan bahkan orientasi seksual seperti lesbian.
Jika dikaitkan dengan cerita sangkuriang, bisa kita analogi kan bahwa seorang anak pada tahap phallic memang sudah memiliki ketertarikan seksual terhadap orangtua nya yang berlawanan jenis (yang kemudian diasosiasikan pada sifat penurut pada orangtua) dan menganggap orangtua sesama jenis sebagai musuh yang akan merebut kasih sayang.
Di Yunani juga terdapat kisah yang bernama Oedipus Complex, diceritakan bahwa Oedipus adalah anak dari Raja Laius dan Ratu Jocasta di Thebes yang diramalkan akan menghancurkan kerajaan Thebes. Kemudian Raja Laius membuang Oedipus ke hutan dengan harapan akan ia tidak akan selamat, hingga pada beberapa tahun kemudian Oedipus ternyata selamat dan tumbuh dewasa, dalam perjalanan nya ke kerajaan Thebes ia tak sengaja bertemu ayahnya dan terjadi perkelahian yang menyebabkan Ayahnya meninggal di tangan Oedipus. Ketika sampai di kerajaan Thebes ia berhasil mengambil alih kekuasaan di sana dan menikahi ibunya sendiri Jocasta tanpa mengetahui hal yang sebenarnya.
Kisah ini akhirnya menjadi penelitian Sigmund Freud dalam membahas perkembangan psikoseksual pada anak anak dan menjadikan istilah Oedipus complex untuk menggambarkan ketertarikan seksual anak pada masa phallic.
Sekian Terima Kasih, Semoga bermanfaat.
Sumber : Buku Psikologi Kepribadian, Alwisol.Buku Psikologi Abnomal.website https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kompleks_Oidipus
Komentar
Posting Komentar